LPM gazebo, -Sangatta - Kesabaran masyarakat Kutai Timur akhirnya habis. Setelah kurang lebih empat bulan mengalami pemadaman listrik yang tidak menentu, gabungan pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Kutim Takut Gelap menggelar aksi damai di depan Gedung PLN Kabupaten Kutai Timur, Pukul 14.00 WITA. (Selasa 29/9/2026)
Aksi yang dimotori oleh BEM STAI Sangatta ini tergabung dalam Gerakan "POWER OUTAGE WARS KUTAI TIMUR 2026". Setidaknya 11 elemen bergabung, di antaranya DPD FDM Kutim, DPC CMI Kutim, PC PMII Kutim, GPM Kutim, BEM STIENUS Sangatta, Sekolah Alam Indonesia, Juragan Kurir Sangatta, Komunitas Pemuda Arbat, hingga pelaku UMKM dan Ekonomi Kreatif Muda.
Ketua Aksi dalam orasinya menyampaikan, aksi ini lahir dari keresahan. Kutai Timur dikenal sebagai daerah lumbung energi nasional, namun ironis warganya sendiri harus hidup dalam ketakutan akan gelap.
"UMKM mati, ibadah terganggu, mahasiswa tidak bisa belajar. Kami bosan dengan alasan teknis yang berulang tanpa solusi," teriak salah satu orator dari BEM STAI Sangatta.
Dalam aksinya, aliansi membawa 10 Poin Tuntutan yang harus dijawab PLN secara terbuka dan menjadi skala prioritas:
1. Membuka dasar hukum dan standar pelayanan ketenagalistrikan yang menjadi acuan.
2. Transparansi penuh mengenai akar persoalan pemadaman 4 bulan terakhir, termasuk penyebab, wilayah terdampak, dan durasi padam.
3. Menyusun langkah pemulihan yang konkret, terukur, dan memiliki batas waktu yang jelas.
4. Keterbukaan informasi publik yang cepat dan akurat soal jadwal padam dan estimasi penyalaan.
5. Evaluasi terbuka terhadap kinerja PLN selama triwulan berjalan.
6. Jaminan peningkatan keandalan sistem kelistrikan melalui investasi nyata, bukan sekadar janji.
7. Pemenuhan hak kompensasi/ganti rugi bagi pelanggan terdampak sesuai amanat UU No. 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan.
8. Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan anggaran serta investasi sektor ketenagalistrikan di Kutim.
9. Menghadirkan solusi jangka pendek, menengah, dan panjang terkait kapasitas pasokan dan jaringan.
10. Menuntut adanya forum pertanggungjawaban publik antara PLN, Pemerintah Daerah, dan masyarakat.
Massa aksi menegaskan, tuntutan ini bukan sekadar peringatan tertulis. Mereka menuntut agar manajemen PLN sebagai Badan Usaha Milik Negara bekerja lebih efektif dan memastikan tidak ada lagi pemadaman di daerah yang penuh sumber energi ini.
Alhamdulillah, hingga berita ini diturunkan, manajemen PLN Cabang Sangatta berkenan membersamai untuk menemui mereka dan menandatangani pakta komitmen.
Editor: Admin LPM gazebo
Narsum: PresBEM STAI Sangatta
M. Awie Mas'ud





0 Komentar