Minat Baca, Perpus, Dan Aku Yang Dirundung Rindu



Oleh : Fauziah Handayani

Perpustakaan, sebuah tempat di sudut kampus yang berisi deretan rak dan buku dengan ragam jenis karya tulis. Perpustakaan merupakan salah satu sumber ilmu pengetahuan yang memiliki peran pendongkrak minat baca dan sebagai lumbung informasi akademik mahasiswa.

Perpustakaan yang memiliki tata kelola bagus dan menyenangkan akan mengundang minat mahasiswa betah berjam-jam didalamnya, sebaliknya tata kelola yang buruk praktis hanya dikunjungi mahasiswa ketika ada tugas kuliah. Tragisnya, giat mengunjungi perpustakaan ini harus terhenti total sejak bencana Covid-19 (sebelumnya terhambat akibat tata kelola yang buruk).

Ya, kemunculan covid-19 memaksa Perguruan Tinggi meberlakukan perubahan-perubahan. Beberapa sektor pelayan dalam kampus harus ditutup, tidak terkecuali perpustakaan. Proses perkuliahan dari yang awalnya tatap muka dikampus dirubah menjadi kuliah daring/dalam jaringan yang berbasis online. Kuliah online ini, diikuti dengan tumpukan tugas dari dosen.

Tugas yang semakin hari semakin membumbung, berbanding terbalik dengan materi yang didapat dari dosen, termasuk materi baru dan materi yang belum pernah dipelajari sebelumnya. Kebutuhan akan referensi ilmiah dalam menyelesaikan tugas mutlak diperlukan. Itu berarti dimasa Covid-19 ini, akses terhadap perpustakaan semakin dibutuhkan mahasiswa.

Dimasa stay at home, sebenarnya perpustakaan berpeluang memainkan peran yang sangat penting. Bagaimana tidak, kendati proses kuliah tatap muka ditiadakan, kebutuhan terhadap buku justru meningkat.

Kebutuhan ini, bukan hanya sebagai referensi tugas perkuliahan, tapi juga bahan menyusun tugas akhir bagi mahasiswa golongan tua. Selain itu, peluang untuk mendongkrak minat baca oleh perpustakaan terbuka lebar, sebab dengan kebijakan stay at home, mahasiswa lebih memiliki waktu luang untuk membaca ketimbang biasanya.

Terlebih era new normal memberikan peluang yang lebih terbuka untuk pemanfaatan perpustakaan. Memenuhi tuntutan kebutuhan akan akses referensi di perpustakaan dapat perpustakaan dilakukan dengan menerapkan pencegahan atau mengikuti protokol kesehatan.

Bukanlah hal sulit mewajibkan penggunaan masker, menyediakan tempat cuci tangan dan pengecekan suhu badan bagi pengunjung perpustakaan. Ya, tentu ini bisa berjalan diterapkan, lagi-lagi kalau memang perpustakaan punya rasa tanggungjawab terhadap budaya literasi, budaya baca.

Bukankah menumbuhkan minat baca merupakan salah satu tujuan dilahirkannya perpustakaan?

Jika perpustakaan gagal atau bahkan enggan memainkan peran pentingnya, jangan heran kalua UNESCO memberikan presentase 0,001% terhadap minat baca bangsa Indonesia. Artinya diantara 1000 orang, hanya ada 1 orang saja yang rajin membaca di negri tercinta ini. Bahkan Indonesia menduduki peringkat ke 60 dari 61 negara soal minat baca, berada di bawah Thailand di peringkat 59 dan hanya menang atas Bostwana di perinhkat ke 61.

Ya, data statistika diatas menunjukkan rasa cinta masyarakat indonesia terhadap dunia baca buku sangat miskin. Padahal analogi buku merupakan jendela dunia sudah dikenalkan sejak kita masih duduk disekolah dasar.

Jika kampanye soal pentingnya membaca buku sudah dilakukan sedemikian dini namun minat membaca masih rendah, itu berarti ada tata kerja salah yang tidak pernah dibenahi, khususnya dalam ruang perpustakaan. Dan lebih menyedihkan jika kesalahan tersebut berlangsung dalam perpustakaan kampus.

Sudah cukup banyak contoh perpustakaan yang tidak jelas arah dan fungsinya, baik itu di sekolah, perpustakaan daerah, atau perpustakaan kecamatan dan desa. Bahkan ada yang tak berfungsi sama sekali. Perpustakaan itu hanya formalitas bangunan dan program, tanpa ada tendensi untuk menghidupkan semangat literasi. Pada titik inilah perpustakaan kampus harus bisa menjadi role mode, bukan malah ikut menjadi mati bak ditelan bumi.

Oleh karena Itu, inovasi pengelolaan perpustakaan mutlak diperlukan, agar buku yang tersimpan didalamnya tidak berselimutkan debu dan menjadi gudang tanpa tuan. Perpustakaan harus kembali menjadi wadah yang senantiasa menerangi seluruh pembacanya dengan ilmu pengetahuan.

Bagi mahasiswa perpustakaan sesungguhnya memainkan peranan penting bagi terciptanya budaya membaca, berdiskusi, menyusun riset, mengasah daya kritis dan merumuskan problematika kehidupan manusia. Ditengah situasi hilangnya fungsi ruang pustaka ini pantaslah kiranya jika sebagian dari kita berkata "Perpustakaan Aku Dirundung Rindu".

Posting Komentar

0 Komentar